Mengungkap Rahasia Fase Generatif Padi: Strategi Pemupukan untuk Meningkatkan Hasil Panen

- 25 Mei 2024, 03:26 WIB
Fase Generatif Padi: Kunci Produktivitas Pertanian yang Berkelanjutan
Fase Generatif Padi: Kunci Produktivitas Pertanian yang Berkelanjutan /


Songgolangit.com – Pertumbuhan padi merupakan salah satu proses alami yang menakjubkan, di mana setiap fase memiliki peran penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas hasil panen. Fase generatif padi, yang terjadi antara 60 sampai 90 hari setelah tanam, adalah tahapan krusial yang menandai periode berbunga hingga berbuah. Menurut Ir. Nurjaya, MP., pemahaman mendalam terhadap fase ini adalah kunci untuk mendapatkan hasil panen yang optimal.

"Perawatan tanaman padi harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan yang sedang dialami. Kesalahan dalam pemupukan, misalnya, dapat mengakibatkan ketidakseimbangan nutrisi yang berujung pada penurunan kualitas panen," ujar Nurjaya.

Ia menambahkan bahwa pemberian unsur hara nitrogen harus dihentikan pada fase generatif, karena pada fase ini, tanaman lebih membutuhkan fosfor dan kalium.

Fase generatif dibagi menjadi dua periode, yaitu masa reproduktif dan masa pemasakan. Dr. Susilawati, SP., MSi., menjelaskan, "Masa reproduktif adalah saat tanaman padi mulai membentuk organ reproduksi seperti malai dan bulir. Sementara itu, masa pemasakan ditandai dengan pengisian bulir yang matang sempurna."

Baca Juga: Pemupukan Berimbang pada Tanaman Padi di Sawah: Kunci Peningkatan Produksi Padi Nasional

Selama fase generatif, padi sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga petani harus ekstra waspada.

Pemilihan pupuk yang tepat menjadi sangat penting. Menurut data yang diperoleh, penggunaan pupuk kimia seperti NPK Phonska dan ZA menjadi pilihan beberapa petani karena kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Seorang petani dengan lahan seluas 2.000 m2 bisa menghabiskan hingga 70 kg pupuk, dengan komposisi 50 kg NPK Phonska dan 20 kg ZA.

Namun, terdapat kekhawatiran akan ketergantungan tanaman terhadap pupuk kimia jika digunakan secara berlebihan.

"Harga pupuk kimia yang semakin mahal dan potensi merusak kualitas beras menjadi pertimbangan. Bau beras yang seperti terkontaminasi zat kimia menjadi salah satu indikatornya," ungkap salah satu narasumber.

Halaman:

Editor: Yudhista AP

Sumber: kementan.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah