2024, Tahun Melimpahnya Beras di Indonesia: Begini Terobosan Baru Kementerian Pertanian

- 6 Juni 2024, 07:55 WIB
Kepala BPPSDMP  Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi (kanan), saat memberikan keterangan kepada media di Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (5/6/2024).
Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi (kanan), saat memberikan keterangan kepada media di Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (5/6/2024). /ANTARA/Vicki Febrianto./


Songgolangit.com – Di tengah tantangan alam berupa fenomena El Nino yang mengancam stabilitas produksi pangan nasional, Kementerian Pertanian RI mengungkapkan rasa optimisnya bahwa kekurangan pasokan beras akan teratasi pada tahun 2024. Menghadapi realita penurunan produksi yang signifikan, langkah strategis mulai dirancang untuk menjamin ketersediaan beras bagi masyarakat Indonesia.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi menyampaikan, "Produksi beras kita pada 2023, 30,2 juta ton. Berarti, untuk konsumsi saja kurang satu juta ton. Belum untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 2,5 juta ton. Total, kekurangan beras per tahun sekitar 3,5 juta ton. Itu kondisi Indonesia saat ini."

Menyikapi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian RI telah merumuskan beberapa inisiatif. Salah satu yang menjadi fokus adalah perluasan area tanam dan peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan rawa serta sawah tadah hujan. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan kondisi produksi beras ke tingkat yang melimpah.

Kementerian Pertanian RI saat ini tengah berupaya menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional. Langkah-langkah yang diambil meliputi optimalisasi lahan rawa, penerapan sistem pompanisasi, serta praktek tumpang sisip padi gogo pada lahan perkebunan.

Baca Juga: Pemerintah Kota Madiun Distribusikan Bantuan Pangan Beras, 10.225 Warga Terima Manfaat

"Optimalisasi lahan rawa kita lakukan di 11 provinsi dengan target meningkatkan IP dari 100 menjadi 200 untuk daerah yang telah kami survei," tambah Dedi Nursyamsi. Provinsi-provinsi yang menjadi lokus kegiatan ini antara lain Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, serta beberapa provinsi di Sumatera dan Sulawesi.

Dengan meningkatkan IP dari satu kali menjadi dua kali tanam dalam satu tahun, diharapkan output produksi beras nasional akan mengalami peningkatan. "Lahan rawa kita umumnya hanya sekali tanam dalam satu tahun. Jika kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi dua dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu, program pompanisasi juga sedang dijalankan pada lahan persawahan tadah hujan yang berdekatan dengan sumber air. Program ini tidak hanya dilaksanakan di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Pulau Jawa. Untuk mendukung program ini, Kementerian Pertanian RI akan menyediakan bantuan sebanyak 90 ribu unit pompa air. Saat ini, sebanyak 25 ribu unit pompa air telah disalurkan.

Baca Juga: Keunggulan dan Kekurangan Padi Inpari 42 Agritan GSR: Benih Varietas Andalan Petani di Era Modern

"Kita punya lahan tadah hujan 3-4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," tutupnya.***

Editor: Yudhista AP

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah