Ramadan di Tengah Puing: Kisah Ketegaran dan Pilu Warga Gaza Menjalani Bulan Puasa

- 16 Maret 2024, 16:08 WIB

Songgolangit.com - Di tengah kehancuran yang terus menerus, bulan suci Ramadan tiba bagi warga Palestina dengan harapan yang suram. Di Gaza, dimana teror Israel belum menemukan titik akhir, warga memulai ibadah puasa di antara reruntuhan bangunan yang hancur.

Ketika umat Muslim di seluruh dunia menyambut bulan suci Ramadhan dengan sukacita, suasana di Rafah, Gaza, terasa jauh berbeda. Kekhawatiran akan serangan militer Israel yang tidak mengenal waktu, bahkan selama Ramadhan, semakin memperburuk kondisi para pengungsi Palestina yang telah lama menderita akibat teror berkepanjangan.

Di tengah reruntuhan yang menjadi saksi bisu pertempuran, warga Rafah mencoba untuk tetap beribadah dan menjalankan puasa Ramadhan.

Berdesakan dalam tenda-tenda darurat yang didirikan di lapangan terbuka, mereka menunaikan sholat tarawih bersama, berharap akan keselamatan dari kekejaman serangan dan kekurangan pangan yang mengancam jiwa.

Selama lima bulan terakhir, konflik telah merenggut nyawa lebih dari 30.000 orang Palestina dan mengubah Gaza menjadi puing. Di mana biasanya keluarga akan berbuka puasa dengan santapan lezat, kini mereka hanya memiliki sedikit lebih dari makanan kaleng dan harga yang tidak terjangkau bagi banyak orang.

"Anda tidak melihat kegembiraan di mata siapa pun," ujar Sabah al-Hendi, seorang warga yang berbelanja makanan di Rafah. "Setiap keluarga berduka. Setiap keluarga kehilangan syuhada."

Krisis kemanusiaan di Gaza, khususnya di Kota Rafah, semakin mendalam seiring dengan serangan teror Israel yang berulang. Masyarakat yang telah berpuasa lebih dari lima bulan karena kekurangan pasokan makanan, kini harus menjalani puasa Ramadhan tanpa titik terang kepastian untuk berbuka.

"Kami tidak tahu apa yang akan kami makan saat berbuka nanti," tutur Zaki Abu Mansour, seorang pengungsi berusia 63 tahun, dengan mata yang terlihat kelelahan.

"Saya hanya memiliki tomat dan timun, dan saya tidak memiliki uang untuk beli makanan," keluhnya, menggambarkan betapa parahnya kondisi kehidupan di Rafah.

Menurut laporan dari kementerian kesehatan di Gaza yang diungkap oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sudah 25 nyawa melayang karena kekurangan gizi dan dehidrasi, kebanyakan dari korban adalah anak-anak yang rentan.

"Kami tidak merasakan kelezatan di bulan Ramadhan. Lihatlah semua orang yang tinggal di dalam tenda dalam cuaca dingin," ujar warga lain yang bernama Al-Masry, mencerminkan penderitaan yang dihadapi warga Gaza.

Sebuah pemandangan yang berbeda terlihat ketika kelompok pemuda amal Palestina berinisiatif mengumpulkan dan mendistribusikan makanan bagi para pengungsi. Pada hari kedua Ramadhan, warga berkumpul, antusias menantikan sedikit kelegaan dari kelaparan yang membayangi.

Meskipun kondisi yang serba kekurangan, semangat Ramadhan masih terasa di antara mereka. Beberapa pengungsi dengan kreativitas menciptakan dekorasi lampu dari bahan seadanya, menghias tenda-tenda mereka, mencoba menerangi kegelapan malam dan hati yang dilanda sembilu.

Ironisnya, mereka bahkan juga telah kehilangan masjid sebagai tempat ibadah, simbol spiritualitas yang penting selama bulan suci ini. Warga Gaza menggelar tikar di puing masjid yang dihancurkan Israel, untuk melakukan shalat tarawih.

Mereka tidak meninggalkan salat berjamaah. Tahun ini, Gaza tidak menghidupkan lampu khusus bulan suci.***

Images Lainnya

Terpopuler

Kabar Daerah